Minggu, 31 Maret 2013

[Part 9] FINDING THE SUSPECT


Setelah merasa perlu untuk mempublish cerita yang sudah berlembar2 tapi belum kelar ini, maka akhirnya part 9 aku rampungkan hari ini dan jadilah cerita di bawah ini hehe.. silahkan di baca *kayak ada yang mau baca aja* #nangisdipojokan hehe

Where Your Commitment Go?? [Part 1]



“Everybody's a dreamer”


Sahabatku dan Aku baru saja kembali dari sebuah penelitian yang kami lakukan untuk tugas sekolah. Temanya mengenai sosial. Kami memilih untuk membahas kehidupan orang-orang pinggiran di kota padat dan modern ini, masih banyak sekali penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Menyedihkan.

Yang kami lakukan hanya merangkum kehidupan mereka dalam sebuah tulisan dan juga foto, mewawancarai mereka untuk mendapat informasi. Terkadang kami mem- bawakan makanan yang menurut banyak orang makanan sederhana tapi bagi mereka, luar biasa jauh dari sederhana.

“kalian tau tidak? Banyak sekali anak-anak kecil di lingkungan kumuh itu?” tanyaku membuyarkan kebisuan diantara kami berempat. Teriknya matahari membuat kami malas untuk mengucapkan sepatah kata pun.

“iya, kenapa memangnya?”

“aku rasa mereka membutuhkan pendidikan yang layak juga” ucapku sekenanya.

“lalu?”

“masa tidak terfikirkan oleh kalian sih? Ya kita buat sarana mengajar untuk mereka dong” terangku.

“hmm nggak semudah itu tau”

“memang nggak mudah, tapi apa salahnya mencoba? Setiap orang boleh bermimpi kan, apa salahnya berusaha untuk mewujudkannya?”salah satu sahabatku mulai bicara. Aku mengangguk semangat. Benar sekali!, teriakku dalam hati.

Aku menunggu respon dari kedua sahabatku yang masih tampak berfikir. Mereka memang orang yang susah di bujuk. 


BERSAMBUNG



Assalamualaikum sahabat~ 
kali ini aku kembali lagi dengan cerita baru padahal masih banyak cerita yang belum terselesaikan *finding the suspect* hahaha

cerita ini diadaptasi dari kisah nyata #aelah bahasanya walaupun sedikit di ubah dan di lebih2 kan supaya feel nya dapet (?). Cerita ini sengaja di buat pendek dan di awal cerita bakal selalu ada quotes2 yang menginspirasi aku buat menulis :) oke sudah dulu deh, insya allah part 2 akan di publish secepatnya. 

Wasalamualaikum~

Kamis, 07 Maret 2013

KAKAP :3


Assalamualaikum wr.wb sahabat,

di malam yang sunyi ini #eeaa hehe aku berfikiran untuk memperkenalkan KAKAP itu sekaligus dengan menampilkan foto-foto saat mengajar karena lagi kangen banget sama mereka. Bayangkan 1 minggu tidak ngajar rasanya amat tidak tenang (haha lebay tapi serius loh ini)

KAKAP ini merupakan komunitas yang bergerak di bidang pendidikan yang ada di bawah sebuah yayasan. Disini kami mengajarkan anak-anak TK, SD, SMP, SMA dan kuliah (?) bohong deh kita cuma ngajarin anak SD dan sedikit anak TK. Di komunitas ini kita lebih mengutamakan ilmu agamanya tapi ilmu pengetahuan nya juga ada cuma masih belum terlaksana dengan baik hehe. Oh ya komunitas ini masih tergolong baru, tahun 2012 bersama dengan teman-teman setelah rapat di facebook (wkwk) akhirnya terbentuklah KAKAP ini. Anggotanya baru menjangkau anak-anak rohis di SMA karena memang ide ini muncul di kalangan akhwat rohis. Proses mengajar ini mulai dari senin sampai sabtu secara bergantian ngajarnya dan di laksanakan ba'da ashar.

Di bawah ini foto-foto saat aku dan teman-teman mengajar :D

T_T jadi kangen aduuhh bule imut banget sih kamu

     Mereka yang selalu narsis di depan kamera ckck

       begitu semangatnya saat membaca do'a sampai aku pusing denger mereka teriak-teriak gitu haha

                        Arya yang kalem, rajin dan baik hati yang suka minta latihan soal dan pr terus :)

 Umar yang berisik, suka nyapu dan udah bisa baca Al-qur'an loh subhanallah dan yang pernah mogok ngaji dengan Dea Syifa haha (peace loh de, tuh liat umar wkwk)        

 Enaknya di traktir es krim ya adek-adek sampe pamer begitu haha

 Aduh jangan malu-malu di foto wkwk lucu deh

                        
  Vadip.. kamu ngapain sih gaya begitu? ngaji dong :)

          Anak-anak yang di ajar KAKAP bersama dengan 2 mas-mas yang hmm ngapain ya kalian di situ? aduh jadi gimana gitu fotonya -_- (wakakak)


Aldino yang suka nyanyi nggak jelas dengan Reza yang suka malu-malu gitu deh tiap dipuji..


oke deh sekian dulu fotonya. Ini baru yang bisa terdeteksi oleh  kamera (?) foto-foto selanjutnya menyusul hehe kalau ada itu juga. Wasalamualaikum wr. wb.
Oyasuminasai~!

[Part 8] FINDING THE SUSPECT




“Akira kun” panggil Kazato. 

Ia mengangkat kepalanya dan menatap datar ke arahku. Tidak ada ekspresi. Aku heran melihatnya. Kemana Akira yang dulu bersemangat?

“Ayuka, apa yang kau lakukan disini?” tanyanya. Sifatnya sama sepertiku, persis.

“mencari tau apa yang sebenarnya terjadi”

“berhentilah. Sebelum terlambat” ia memberikan peringatan kepadaku. Aku masih berusaha mencerna maksud dari kata-katanya ketika ia bangkit berdiri untuk pergi. Aku menangkap pergelangan tangannya seraya berujar, “jangan harap kau bisa pergi sebelum kau menceritakan semuanya padaku”

Ia menggeleng, “terlalu beresiko. Dia terlalu berbahaya. Dia akan melakukan apapun untuk menutupi kebohongannya. Menyerahlah”

“akira, bicaralah yang jelas. Aku tidak mengerti maksudmu. Siapa sebenarnya yang sebut ‘dia’?”
“itulah yang perlu kau cari tahu sendiri”

“kau harus membantuku” pintaku.

“dan kau bisa menjamin kalau aku dan kedua adikku akan selamat kalau dia tau aku membocorkannya?”tanyanya. Aku menggeleng, yang ia katakan memang benar. Akan jadi bahaya untuk mereka. “tapi berikan aku sedikit petunjuk”

“pelajari semua kasus yang terjadi. Secara detail. Kapan kejadian itu terjadi”sarannya. Ia pergi begitu saja. Setelah lama tidak bertemu, dia bahkan tidak menyapa teman baiknya ini. Kenapa kasus ini harus membuat persahabatannya jadi suram..

“ayuka chan, kembalikan ponselku” ucap seseorang di sampingku. Tanpa fikir panjang aku memberikan ponselnya, malas untuk memulai perdebatannya. 

“kau mau pulang? Ayo”ajakku. Rasanya akan sia-sia aku menunggu Akira untuk buka mulut, sepertinya terlalu berbahaya untuknya. 

“secepat itu?”tanyanya bingung. Aku hanya mengangguk dan melangkahkan kaki keluar. Tak perlu menunggu ia untuk merespon lagi, toh aku bisa pulang sendiri. 

44 menit perjalanan di kereta ku gunakan untuk berfikir keras dan tak mengacuhkan perkataan Kazato yang terus mengganggu. 

“semua kasus terjadi tiap tahun. Kenapa ia meminta aku untuk mempelajarinya secara detail. Apa mungkin… kejadian itu selalu terjadi pada waktu yang sama?”tebakku. aku langsung mengeluarkan ponsel milikku, menelfon nomer yang sudah taka sing lagi. Ayah.

“mosi-mosi, apa ayah bisa kirimkan aku data-data siswa yang berhubungan dengan misteri ini? Ya ya aku mengerti…. Aku sudah bertemu dengannya tapi sia-sia…. Ya aku rasa juga begitu. Apa ayah bisa diam-diam mengecek data-data sekolah? mungkin kah ada yang ganjil? Ya aku mengerti, aku akan kembali besok pagi”

Aku menutup sambungan telfon sementara Kazato menatapku, penasaran. Aku membiarkannya, berusaha menyibukkan diri. Hingga akhirnya Kazato dan aku tiba di Tokyo Station.

“ayuka san..”panggilnya saat aku baru melangkah pergi. Aku hanya mengangkat asli, seakan menanyakan ada apa padanya.

“kalau kau tidak keberatan aku bisa membantumu.. untuk mencari tau siapa pelakunya” ucapnya. Aku mengangguk dan berkata, “ya beritahu aku kalau menemukan bukti apapun”.

aku berniat kembalik ke Kyoto esok pagi. Tapi entah kenapa, setibanya di rumah bibi aku merasa semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Kenapa Akira begitu tertutup padanya? 

Tadinya aku ingin kembali ke Kyoto hari ini juga. Tapi tak enak melihat bibi harus tinggal sendirian lagi. Bibi memang tinggal sendiri, sementara paman sudah lama meninggal dunia. Anak-anaknya pun jarang sekali mengunjunginya, sehari-hari ia hanya mengurus kebun anggur miliknya yang sudah ada dari puluhan tahun yang lalu. Sehingga ku putuskan untuk memanfaatkan hari ini untuk bersama bibi mulai dari memetik buah anggur sampai berbelanja kebutuhan pokok di pasar terdekat.

Senja mulai datang menyelimuti hari ini, langit berubah menjadi gelap gulita. Sementara bibi mengantarkan makanan yang kami buat ke rumah tetangga aku menyalakan laptopku. Ada email masuk dari ayah.

Terlihat di layar laptop foto-foto siswa yang menghilang beserta dengan keterangan pribadinya. “Misaki Aoyama, 26 Februari 2009. Shinichi Edogawa, 15 Mei 2010. Tanaka Ryosuke, 3 Desember 2011.. aku rasa tidak ada yang ganjil dari tanggal-tanggal itu. Ku pikir kejadiannya terjadi di tanggal yang sama. Hmm apa ada sesuatu dengan tanggal itu yah?” tanyaku pada diri sendiri. 

Aku mulai berfikir keras tapi bukan hasil yang ku dapat karena aku malah tertidur di kursi dengan tangan yang bertumpu pada meja kecil dimana aku meletakkan laptopku.

 Aku bangun pukul 5 pagi, mengepak pakaianku ke dalam tas. Karena tidak ingin tiba terlalu siang, aku berangkat 1 jam setelah aku bangun. Sebelum pergi aku berpamitan dengan bibi yang memberikan ku bekal cukup banyak dan pasti enak sekali. 

Ada keraguan dalam diriku untuk melanjutkan kasus ini. Aku tak pernah melihat Akira tertekan seperti itu. Orangtuanya di pecat dari tempat kerjanya dan memilih untuk pindah ke kampong halaman, membuatku yakin itu semua ulah pelaku. Dia pasti orang yang punya jabatan tinggi di dalam sekolah. atau mungkin? Tersangkanya orang luar tapi punya mata-mata dalam sekolah. Tapi apa tujuannya? Kenapa harus melibatkan siswa?


BERSAMBUNG

Rabu, 06 Maret 2013

[Part 7] FINDING THE SUSPECT



“kazato kun”. Laki-laki itu menghentikan langkahnya, terdiam. 

Dia tidak menoleh ke arahku sampai aku hendak memanggilnya, dia menoleh dengan ekspresi kaget. Aku tersenyum kesal, “jangan mencoba untuk lari. Ikut aku” perintahku. 

Aku memastikan dia berjalan di belakangku sementara Kazato terus mengomel sendiri menyadari kebodohannya.Terpaksa aku membatalkan pergi ke Komae, mendapatkan informasi langsung dari mata-mata Akira lebih menguntungkan. 
 
“jadi dia akan pergi ke Tachikawa?” tanyaku langsung, aku tidak suka harus berbasa basi. Dia tampak bingung. Harus menjawab atau tidak.

“kenapa kau membantunya? Apa hubunganmu dengan Akira? HEI! Jawab pertanyaanku” paksaku.

“benar kata Akira kau ini menakutkan kalau marah” ucapnya pasrah.

“jawab pertanyaanku, Kazato kun. Apa hubunganmu dengan Akira?”

“dia sepupuku”

“kenapa kau membantunya?”

“karena dia sepupuku” jawabnya singkat. Aku menjitak kepalanya keras, dia merintih kesakitan. 

“jawab yang benar. Atau kau mau pulang dengan keadaan mengenaskan? Bagaimana bisa kau membantunya?” 

“ceritanya panjang. Kau akan bosan setengah mati kalau harus mendengar dari awal” ia berkelit untuk memberitahuku.

“ceritakan aku dari awal” aku menekankan ucapan. Dia tampak menyerah. 

“mereka memaksa Akira untuk pindah sekolah. kedua orang tua Akira di pecat dari tempat kerjanya. Bukan cuma Akira tapi semua anak yang menghilang begitu saja dari sekolah. Ini bukan kasus penculikan apalagi pembunuhan. Tapi, ada yang sekolah sembunyikan dari kalian. Akira tidak memberitahuku apa maksudnya. Ada orang-orang yang selalu memata-matainya karena itu ia berusaha memendam rahasia”tuturnya. 

Aku hanya melongo mendengarkan penjelasannya. Ini jauh berbeda dari yang ku fikirkan.

“maksudmu mereka? Bukan hanya satu orang? Siapa saja itu?”tanyaku. dia menggeleng, “aku tidak tahu. Akira tidak mau mengatakannya. Sudah jelas kan?”

“bagaimana bisa di bilang jelas. Aku sama sekali belum tau siapa pelakunya. Dimana ponselmu?” 

“apa? Kenapa kau menanyakannya?”

 dia tampak bingung tapi tetap mengeluarkan ponsel miliknya dari kantong kemejanya. Aku mengambil ponsel itu, 

“besok kita berangkat ke Tachikawa. Jam 7 pagi temui aku disini. Ponsel ini akan ku kembalikan setelah aku berhasil menemukan Akira” kataku tanpa menghiraukan protes yang ia lontarkan. 

Aku hanya pura-pura tidak mendengarnya. Hari mulai gelap, aku memutuskan untuk pulang meninggalkan Kazato yang tidak terima ponselnya di ambil.

Ini hari ketigaku di Tokyo. Tapi aku sama sekali tidak punya waktu untuk menikmati kota Tokyo ini.

“selamat pagi,bi!” sapaku saat menuruni tangga. Ia tengah menyiapkan sarapan untukku.

“berangkat pagi lagi?” tanyanya. “masih belum menemukan Akira?” lanjutnya.

Aku hanya bisa menggeleng, mulutmu penuh dengan sarapan enak yang di buatnya. Kemarin aku terpaksa memberitahu apa yang sebenarnya aku lakukan yaitu mencari Akira. Awalnya dia terkejut dan marah-marah pada ayah karena membiarkan aku melakukannya.

“aku pergi dulu”pamitku. Seperti biasa, menunggu kereta tiba di Tokyo Station. Aku datang 15 menit sebelum jam 7. Memastikan bahwa Kazato akan datang. Lagipula ponselnya ka nada di tanganku. 

Aku melihat sosok yang ku kenal tengah berjalan ke arahku, aku tertawa senang melihat wajahnya yang kusut. Kereta datang lima menit setelah Kazato muncul. Perjalanan menuju Tachikawa sejauh 44 menit. Terlalu lama dan membosankan.

“jadi kapan ponselku akan kau kembalikan, hah?” tanyanya.

“sampai aku bertemu dengannya dan mendapatkan petunjuk darinya”

“hei, bagaimanapun itu ponselku. Bagaimana bisa kau mengambil milik orang lain tanpa izin. Kalau ada telfon ataupun sms penting, bagaimana? Kau mau..”

“Kazato-kun, jangan cerewet. Diam saja, kenapa aku harus bertemu dengan orang berisik seperti mu?”

“hah? Dan bagaimana bisa aku bertemu dengan cewek menyebalkan seperti mu?”ia balik menantangku. Aku semakin kesal padanya, baru saja aku mau membalas dengan ucapan pedas tapi ponselnya berbunyi. Nama Akira tertera di layar ponsel.

“kebetulan yang menguntungkan. Bilang padanya kau ingin menemuinya” aku memberikan ponsel ke arahnya, ia melirik siapa yang menelfon dan bergumam, “licik” yang hanya dib alas senyum olehku.

“ada apa?... aku sedang menuju Tachikawa. Ada yang ingin ku bicarakan. Apa? Ayuka?..... hmmm tidak… kenapa? Itu kan hanya mimpi kazato kun.. sudahlah, 15 menit lagi aku akan sampai…. Ya ya aku mengerti…” aku menyimak pembicaran mereka. Kazato menutup sambungan telfonnya,

“sepertinya ia punya firasat kalau aku membocorkan rahasianya padamu. Kalian ini seperti punya hubungan batin..” jelasnya. Aku tidak membalas perkataannya, memalingkan wajah ke luar kereta sambil menunggu kereta sampai di Tachikawa.

“jadi dimana kalian akan bertemu?”tanyaku saat melangkah keluar dari kereta. 

“ikut saja. Kita hanya perlu naik bis untuk sampai kesana”. Kami berdua naik bis, hanya menempuh beberapa menit untuk sampai di café tempat mereka akan bertemu.

“itu disana”

Kazato menunjuk bangunan kecil yang tak terlalu ramai oleh pengunjung. Aku bisa melihat siluit Akira, ia tidak melihat ke arah luar. Sibuk dengan dunianya sendiri, pasti membaca komik detektif atau mungkin horror.

“ayo” ucapnya. Aku berjalan mengikuti Kazato. Semakin mendekat ke arah Akira, semakin muncul rasa bersalah. Aku takut akan ada hal buruk yang menimpa dia bahkan pada tanaka maupun megumi.
 
“Akira kun” panggil Kazato. 



BERSAMBUNG

Rabu, 27 Februari 2013

[Part 6] FINDING THE SUSPECT




“Kak Ayuka??!!!” teriak kaget seseorang di depanku, bocah laki-laki itu tepatnya  Tanaka terkaget melihat kehadiranku. Aku hanya bisa tersenyum kikuk dan mereka malah berlari lebih kencang. 

“HEI! Kalian!! Jangan lari!” teriakku sambil berlari mengejar mereka.

Dan di café ini lah kami berada. Aku, Megumi dan Tanaka. Mereka  kupaksa untuk ikut denganku yang menandakan mereka bolos sekolah. Megumi benar-benar panik menyadari bahwa ia bolos sekolah. Gadis 14 tahun itu termasuk anak yang rajin dan patuh sekali.

Berbeda dengan bocah 8 tahun ini yang tengah menyesap jus alpukatnya sambil tersenyum, Tanaka termasuk anak yang nakal. 

“Jadi..” aku membuka suara “dimana Akira?” tanyaku to the point. Mereka berdua saling bertatapan dan menggeleng kompak. Aku kembali bertanya lagi, tapi mereka berdua masih terus bungkam.
“kalian tidak tau dimana dia?” tanyaku. 

Mereka menggeleng.

“jadi kalian tidak tinggal dengannya?”tanyaku lagi. Mereka hanya menggeleng. 

“aku akan berikan apapun yang kalian inginkan. APAPUN. Tapi beritahu aku dimana dia berada. Sepakat?” aku berusaha keras membujuk mereka. 

“Apapun?!” mata Tanaka tampak berbinar-binar. Aku tau sekali apa yang ia mau.Tanaka chan, kau pasti ingin beli komik samurai kyo full edition kan? Akira pasti melarangmu tapi aku akan membelikannya kalau kau beritahu dimana dia sekarang”
 
“oke! Deal! Onne chan, kau mau minta apa?” 

“hei! Onni chan akan marah pada kita” 

“hm kau yakin tidak akan menyesal menolak, megumi chan kau harus tau kalau aku punya…. Tadah! Tiket untuk belanja sepuasnya di Kyoto mall. Tidak mau niih?” ucapku sambil memasukkan lagi kartu belanja yang ku pegang. Secepat kilat, ia merebut kartu itu dari tanganku. Haha aku menang sekarang, teriakku dalam hati.

“jadi dimana Akira sekarang?” tanyaku lagi. Mereka tampak berfikir. 

“onni chan tinggal sendiri di Komae. Sementara kami berdua tinggal bersama paman”

Komae?!” pekikku kaget. 

“iya, onni chan sekolah di Hiroo High School” tutur Megumi

“Hiroo High School??!! Kalian tidak bohong?!” tanyaku setengah berteriak, mereka menatapku ngeri dan mengangguk kecil. Aku berteriak frustasi

“melelahkan… benar-benar melelahkan. Aku harus bolak balik lagi” omelku dalam hati.

“oke, sampai jumpa lagi tanaka chan dan megumi chan. Daah” pamitku

“onne chan bagaimana dengan hadiahnya? Komik?”

“iya iya besok ku antar. Sudah dulu ya daahh”

Hari sudah mulai siang, setelah membeli komik untuk Tanaka. Aku memilih pergi ke Kyoto Station. Saat ini benar-benar tidak boleh membuang waktu lagi, aku hanya punya dua hari lagi sebelum kembali ke Kyoto.  Aku menunggu kereta datang, memencet nomer yang sudah ku hafal. Menunggu sampai tersambung, 

“moshi moshi, ayah?” 

“ada apa ayuka?”

“ayaahh! Bagaimana bisa salah memberitahu informasi, Akira benar-benar ada di Komae bukan Shibuya”

“tapi tanaka dan megumi tinggal di Shibuya”

“iya mereka memang di Shibuya, tapi Akira tidak. Sepertinya dia berusaha menipuku”ucapku begitu saja. “menipunya? Ya ampun apa dia tahu aku mencarinya? Apa jangan jangan.. ayah, sudah dulu ya. Daahh”aku memutuskan sambungan telfon sementara ayah pasti bingung apa yang ku katakan.

“kazato? Apa dia..?” tanyaku pada diri sendiri, tapi masih ada yang ku ragukan. Seharusnya dia terus mengikutiku seperti waktu itu, tapi kenapa aku tidak merasakannya? Aku melirik ke kanan dan kiri, tidak ada yang mencurigakan. Hanya orang-orang yang mondar mandir menunggu kedatangan kereta atau baru turun dari kereta yang tiba. 

Aku memilih untuk ke toilet sembari menunggu kereta datang 10 menit lagi. Baru saja aku mau melangkahkan kaki keluar toilet,terdengar suara laki-laki yang tidak asing lagi. 

“Sepertinya dia akan pergi ke Komae. Apa yang akan kau lakukan, Kazato kun?” ucap seseorang di luar toilet. Aku mendengarkan seksama.

“ke Tachikawa ? aku rasa itu pilihan yang tepat. Menghindar darinya memang lebih baik. Kapan kau berangkat…….. besok? Oke baiklah…. Ya ya aku mengerti. Aku pastikan dia tidak akan tahu. Sampai jumpa” laki-laki itu menutup telfonnya. Aku keluar dari balik tembok itu dan benar saja aku melihat kazato yang membelangiku. Ia hendak pergi, langsung saja aku memanggilnya,

“kazato kun”. Laki-laki itu menghentikan langkahnya, terdiam. 


BERSAMBUNG

Senin, 25 Februari 2013

[Part 5] FINDING THE SUSPECT



DEG. Dari jauh, aku bisa mengenalinya. Sangat mengenalinya. Sosok yang sedang berjalan santai, mendekat ke arahku. 

“KAZATO!! Mau apa kau disini? HAH? Kenapa kau bisa ada disini?! Jawab pertanyaanku”teriakku kencang tanpa memperdulikan tatapan aneh orang-orang. Rasa kesal ku sudah naik ke ubun-ubun. Bagaimana bisa cowok kutu buku itu ada disini?

Aku sudah memelototinya dengan tatapan tak suka tapi dia malah menyengir tidak jelas. “hehe aku sedang sedikit berlibur” ucapnya dengan membentuk huruf V dengan tangannya, 

“berlibur? Lalu apa yang kau lakukan disini? Berkeliaran di kawasan sekolah kau bilang berlibur?” tanyaku to the point. Dia tampak bingung menjawabnya. Aku yakin kalau dia mendengar pembicaraan ayah denganku, dan dia memang bermaksud mengikutiku.

“kau mengikutiku kan?”tanyaku lagi. “aku benar-benar tidak suka orang yang mencampuri urusan orang lain. kalau kau juga tertarik dengan kasus ini, maka cari cara lain bukan malah mengikutiku”lanjutku tegas dan sedikit kejam mungkin tapi aku benci harus bersama dengan orang lain saat memecahkan kasus. Tapi Akira adalah pengecualian. 

Dia hanya mengangguk dan menghela nafas. Perlahan dia berjalan menjauh dariku, aku bernafas lega dan berusaha fokus mencari Akira. 

“eh?” 

aku bingung melihat tatapan orang-orang yang lewat dan mereka menertawakan aku. Ya ampun aku lupa kalau tadi berteriak-teriak, memalukan sekali, ucapku dalam hati. Aku menutup wajahku dengan masker, perutku sudah berbunyi karena aku belum sarapan, akhirnya aku memutuskan untuk membeli makanan dan berjalan-jalan di sekitar sekolah sampai mereka pulang. 


“kak, sepertinya aku ketahuan. Aku harus bagaimana? Apa dia tidak curiga?” tanya seseorang lewat ponsel tak jauh dari tempat seorang gadis berdiri tadi. Laki-laki itu masih bisa melihat siluit gadis itu yang tak lama berbelok di persimpangan jalan.
“haha aku melihat dia memarahimu. Sama sekali belum berubah. Pastikan saja kau gagalkan rencananya. Paham?”peintah seseorang di seberang sana.
“apa tidak apa-apa?”
“ini demi kebaikannya. Sudah ya, kelas sebentar lagi dimulai. Aku akan menelfonmu lagi” tutur orang tersebut memutuskan sambungan telfon. Laki-laki itu kemudian masuk ke dalam kelas.

Gadis itu terus menghentakkan kakinya, sambil melirik ke gerbang sekolah yang tadi pagi ia kunjungi. kemeja kotak-kotak dan celana gunung putihnya yang tadi ia beli sudah di pakai olehnya—ia sengaja menyamarkan diri agar tak ada yang mengenalinya dan lebih tepatnya menghindar dari Kazato yang terus mengikutinya. 

“kenapa ya kazato mengikutiku?” tanyanya pada diri sendiri, penasaran. 

Tak selang berapa lama, bel pulang berbunyi diikuti murid-murid yang berhamburan keluar sekolah.  Aku memusatkan penglihatanku ke arah mereka, menatap satu-satu murid laki-laki, tapi tak satupun aku bisa menemukan Akira. Lima belas menit aku berdiri tapi belum juga ku temukan dirinya. Apa mungkin dia tidak bersekolah disini ya? Apa mungkin di Shibuya? Ya ampun aku sudah sejauh ini, tapi tidak menemukan hasil apa-apa. 

Aku memutuskan untuk kembali ke Tokyo, aku rasa dia memang tidak disini. Tapi entah kenapa aku yakin sekali dia ada di Komae, pertemuanku dengan Kazato seakan bukti bahwa aku pergi ke tempat yang benar—aku tidak mengerti kenapa begitu, aku hanya yakin kalau Akira tinggal di Komae. 

“Akira kun, kau mau kemana?”

“Akira kun, hari minggu besok apakah kau sibuk?”

“Akira kun, ayo pulang bersamaku”

Aku terdiam mendengar nama itu. Akira. Aku membalikan badan—yang tadinya melangkah pulang menjadi menghadap segerombolan gadis yang berkumpul di satu titik, aku tidak bisa dengan jelas siapa yang tengah mereka rebutkan. Aku yakin mereka menyebut-nyebut nama Akira

Drrttt… Drrtttt… 

“aiisshh, siapa sih?” aku melirik ke arah ponselku, melihat nama ayah di layar ponsel dan mau tak mau harus menjawab telfon dari ayah sambil terus mengamati gadis-gadis—yang menyebut nama Akira. 

“yuka-chan? Ayah baru mendapat informasi tentang keberadaan Megumi Yamato” ucapnya sesaat setelah aku menerima telfonnya.

“mereka ada dimana? Komae?” 

“bukan, tapi di distrik Shibuya”

“Shibuya?”gumamku pelan.

“Akira kun!!!” teriak gadis gadis berisik itu. Aku melihat seorang laki-laki dengan kacamata tebal berlari menghindar dari mereka. Sekilas, aku berfikir itu Akira. Tapi Dia tidak suka memakai kacamata. Terlebih lagi, kenyataan bahwa mereka ada di Shibuya.

Aku mengurungkan niat untuk pulang. Sudah jam 4 sore, langit sudah mulai berwarna orange yang indah. Suasana sore hari memang selalu membuatku takjub. Aku memilih untuk duduk-duduk di taman dekat Komae High School sebelum pulang ke rumah bibi. 

Suara burung berkicau mengacaukan tidurku. Pagi mulai datang, terlalu cepat menurutku. Kupaksaan diriku untuk bangun, mencuci muka dan gosok gigi. Aku mengambil tas yang tadi malam ku letakkan begitu saja, berjalan keluar rumah. Memulai pencarian hari ini. Hiroo High School.

Hanya butuh sekitar 14 menit perjalanan dari Tokyo ke Shibuya. Aku mulai mencari apartemen yang ditempati oleh Akira dan kedua adiknya. Tidak butuh waktu lama untuk menemukannya, apartemen ini kurasa cukup terkenal. Bangunannya terlihat bagus dan sederhana. Aku menunggu di sebuah kursi di dekat halaman apartemen bercat abu-abu itu, menunggu sampai Akira dan kedua adiknya, Tanaka dan Megumi muncul. Jam 08.00. hmm sepertinya mereka..




“Tanaka!! Ayo cepat! Kita bisa telat!!"teriak seorang gadis sambil menarik bocah laki-laki yang berusaha memakai dasinya yang belum terpakai. Tanaka dan Megumi. Ya, itu mereka. Aku tersenyum senang, sambil berjalan di belakang mereka. Dengan topi dan kacamata tebal yang ku pakai ini mereka tidak akan mengenalku. 
 

“tapi, kemana Akira? Ya ampun kenapa aku malah mengikuti mereka, bukan menunggu Akira? Aiissh bodohnya” aku menggerutu kesal. 

“Kak Ayuka??!!!” teriak kaget seseorang di depanku, bocah laki-laki itu tepatnya   

Tanaka terkaget melihat kehadiranku. Aku hanya bisa tersenyum kikuk dan mereka malah berlari lebih kencang. 

BERSAMBUNG
 

Shining Like Pearl Template by Ipietoon Cute Blog Design