“aku mencurigai seseorang!”
“tidak yakin dia pelakunya sih. Tapi aku rasa dia tau sesuatu”
“Kimura sensei”bisiknya.
Aku menggeleng sambil tertawa dalam hati.
“sepertinya bukan. Aku rasa kimura sensei hanya tertarik juga pada misteri
ini? Mungkin kan? Aku pulang dulu”kataku dan berbalik. “jangan katakan apa-apa
lagi!”teriakku takut-takut kalau dia mengucapkan sesuatu lagi namun yang kulihat Kazato yang bingung.
“kimura sensei? Ayah? Haha dia mencurigai ayahku. Tentu saja dia tidak akan
tinggal diam membiarkan kasus ini terus terjadi, jiwa seorang detektif ku ini
kan menurun dari ayah yang sebenarnya kepala detektif Kyoto. tapi kenapa ia
belum sama sekali menemukan siapa di balik semua ini? Mustahil sekali.” Aku
bergumam dalam hati sampai terus melangkah pulang.
Keadaan masih tetap sama. Semakin banyak siswa
yang membicarakan kasus tersebut. Antara takut bahkan penasaran. Bahkan ada
beberapa orangtua siswa yang mempertanyakannya. Aku menggeleng pelan, waktu ujian
sekolah sebentar lagi tapi keadaan sekolah mulai tidak terkendali.
“kemana Shizu sensei? Kok belum dateng-dateng ya?” tanyaku sambil
membolak-balikan halaman buku matematika. Sementara Yui dan Nami kompak
menggeleng. Kegaduhan dimana-mana, ada yang bermain kartu, bergosip dan
mengerjakan hal yang lebih baik---belajar.
“yuka chan, mau kemana?” tanya Nami yang memperhatikanku keluar dari kelas.
“toilet” jawabku singkat.
Aku melangkahkan kaki menuju ruang guru. Menengok ke dalam, apakah ada ayah
atau tidak rasanya aku benar-benar tidak tahan melihat keadaan sekolah harus
seperti ini. Rupanya ayah tengah berbicara dengan kepala sekolah, aku
menyipitkan mata menajamkan penglihatan berusaha menangkap pembicaraan mereka.
Aku menggeser pintu sedikit terbuka tanpa suara, memajukan tubuhku.
“ayukan san, apa yang kau lakukan?” tanya seseorang di belakangku membuat
aku refleks membuka lebar pintu, berbalik dan terlonjak kaget hampir jatuh.
Sontak seluruh mata tertuju padaku termasuk ayah dan kepala sekolah. Aku hanya
bisa tersenyum miris ketahuan menguping di depan ruang guru. Aissh, memalukan,
runtukku dalam hati.
“eh maaf sensei~ aku hanya… eehh… mencari Shizu sensei. Ya! Shizu sensei
hehe” ujarku bingung sambil terus membungkuk maaf. Sementara ayah berjalan ke
arahku, “shizu sensei tidak ada. Ayo ayah ingin bicara” ucapnya sembari keluar
ruangan.
“kau pasti penasaran kan?”tanyanya tanpa basa basi, seakan mengerti apa
yang ku pikirkan. “hmm iya”jawabku singkat tapi memang itu lah kenyataannya.
“ayah belum tau siapa di balik semua ini. Tidak ada satu pun yang bisa ayah
curigai” terangnya. Aku hanya mengangguk, tidak berkomentar apapun.
“membingungkan sekali. Apa motif di balik kasus ini? Setiap anak yang hilang
pasti keluarganya pun juga menghilang. Seperti sudah di rencanakan. Ayah rasa,
pelakunya sengaja melakukan trik seperti itu untuk menutupi perbuatannya.
Keluarga korban tak satu pun bisa ayah lacak, aneh sekali. Sepertinya, pelaku
memang orang yang cerdik. Dan ayah yakin pelakunya dari luar sekolah”lanjutnya.
“luar sekolah?” tanyaku meyakinkan ayah akan dugaannya.
“ya, tapi pasti dengan bantuan seseorang di dalam sekolah. Mata-mata”
ucapnya memelan, aku merasa kasus ini keren sekali. Kata—mata-mata membuatku
membayangkan sedang bermain film detektif. Luar biasa keren.
“ayuka”tegurnya yang melihatku senyum-senyum sendiri.
“eh iya, yah?”
“cari tau keberadaan Akira”perintahnya. Aku mengangguk pelan,
“eh?Akira?” tanyaku kaget
seakan baru tersadar.
-BERSAMBUNG-

0 komentar:
Posting Komentar